Siapakah Sebenarnya Pangeran Samber Nyawa?

Tey ,
Sejarah & Budaya ,
20-10-2018 - 17:00

Orang mengenal Pangeran Samber Nyawa sebagai sosok pejuang yang tak kenal menyerah. Kegigihannya tidak diragukan lagi, melakukan perlawanan terhadap penjajah dan musuh-musuhnya dengan gagah berani, hingga julukan menyeramkan tersebut tersemat sampai kini. Bahkan saking mashyurnya julukan tersebut, banyak orang tidak mengetahui siapa sebenarnya Pangeran Samber Nyawa. 

Samber Nyawa, dalam Bahasa Indonesia berarti penyambar atau pencabut nyawa. Kata-kata ini muncul dalam sebuah autobiografi berjudul Serat Babad Pakunegaran yang menceritakan tentang Pangeran Mangkunegara I. Sebuah bagian dalam serat tersebut mengungkapkan tentang panji perang sang pangeran yang disebut dengan Panji Samber Nyawa. Dari sinilah kemudian, seorang personel VOC, Nicolaas Hartingh memberi julukan Pangeran Samber Nyawa, tidak lain tidak bukan kepada Pangeran Mangkunegara I.

Pangeran Mangkunegara I bernama asli Raden Mas Said. Beliau adalah pendiri trah Mangkunegaran di Surakarta, bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I. Lahir di Kartasura, 7 April 1725, dari pasangan Arya Mangkunegara dan R.A. Wulan. Ayahnya sendiri merupakan putra sulung Amangkurat IV atau Pakubuwana I, penguasa Kasunanan Mataram (1719-1726) yang anti-VOC.

Raden Mas Said menghabiskan masa kecilnya di tanah pengasingan Srilangka. Keluarga mereka dibuang lantaran sang ayah bersikap tegas menolak keberadaan VOC di Jawa. Arya Mangkunegara sendiri seharusnya menjadi penerus tahta Mataram-Kartasura yang sah. Hanya karena bermusuhan dengan VOC, akhirnya putranya yang lain, Pangeran Prabasuyasa ditunjuk sebagai penguasa Mataram dan Pangeran Pakubuwana II di Kartasura. Oleh sebab itulah saat kembali ke Jawa, Raden Mas Said terus melakukan perlawanan bernuansa dendam, terutama terhadap VOC dan para saudara tirinya. 

Perang seakan tak pernah lepas dari kehidupan Raden Mas Said. Kiprah pertama RM. Said dalam pertempuran adalah ketika bersama Sunan Kuning (RM. Garendi/Amangkurat V, cucu Amangkurat III) mengobarkan perlawanan kepada VOC dan Keraton Kartasura pimpinan Pakubuwana II. Perang ini disebut Geger Pacinan, yang terjadi akibat pembantaian massal yang dilakukan VOC terhadap kaum Tionghoa di berbagai daerah di Pulau Jawa. 

Perang terhadap Pakubuwana II dan VOC berakhir dengan penangkapan Amangkurat V. Namun tidak bagi RM. Said, beliau malah mendapatkan sekutu baru, yaitu Pangeran Mangkubumi, saudara kandung Pakubuwana II yang merasa lebih berhak atas tahta Mataram.

Perlawanan keduanya sungguh merepotkan VOC dan Pakubuwana II, hingga mereka menduduki wilayah sebelah barat Surakarta, yang kini bernama Yogyakarta. Pakubuwana II pun akhirnya meninggal akibat sakit parah, membawa Mangkubumi untuk menobatkan diri sebagai Raja Mataram yang baru bergelar Pakubuwana III. Dari sinilah cikal bakal berdirinya Kesultanan Yogyakarta Hadiningrat. Sementara itu, VOC menunjuk Raden Mas Suryadi sebagai penerus tahta di Surakarta.

Karena menderita begitu banyak kerugian, VOC mencoba taktik baru dengan merusak hubungan RM. Said dan Pangeran Mangkubumi. RM. Said terbujuk hasutan suruhan VOC, Tumenggung Sujanapura, dan melepaskan diri dari kerajaan di Yogyakarta. Selanjutnya, VOC pun mencetuskan Perjanjian Giyanti yang secara resmi mengakui Yogyakarta sebagai kerajaan baru pimpinan Mangkubumi, dengan gelar Hamengkubuwana I pada 13 Februari 1755. 

Akhirnya RM. Said terpaksa harus berjuang sendirian. Tapi perlawanan pasukannya tetap saja merepotkan. Padahal kali ini beliau harus menghadapi 3 kekuatan besar dari VOC, Sultan HB I di Yogyakarta, dan Pakubuwana III di Surakarta. Setidaknya ada 3 perang besar yang tercatat dilakoni pasukan RM. Said dengan gemilang. Salah satunya ketika menyerbu Benteng Vredeburg dan menghancurkan pasukan gabungan HB I dan VOC. 

Keduanya kelimpungan, mengalami kekalahan telak, dan kehabisan akal. Sayembara berhadiah yang diselenggarakan untuk membunuh RM. Said pun tidak menghasilkan apa-apa. Maka VOC mencoba menundukkan perlawanan tersebut dengan cara membuat Perjanjian Salatiga pada 17 Maret 1757.

Dalam perjanjian tersebut, baik VOC, Kesultanan Surakarta maupun Yogyakarta sama-sama segan terhadap RM. Said. Mereka kemudian bersepakat menghentikan peperangan, dengan RM. Said memperoleh wilayah konsesi praja setingkat kadipaten yang disebut Mangkunegaran di Surakarta. RM. Said memberi gelar Mangkunegara I pada dirinya sendiri. Di kerajaan inilah RM. Said menghabiskan sisa hidupnya hingga berpulang pada 23 Desember 1795 dalam usia 70 tahun. Pemerintah RI menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional dengan tanda jasa Bintang Mahaputra kepada beliau seabad kemudian.

Komentar
Tak Hanya Berupa Gambar, di Balik Tato Ada Runtutan Sejarah Kebudayaan
Sejarah & Budaya
26-11-2018 - 08:00
​Apa yang kamu pikirkan pertama kali saat melihat seseorang dengan tatto? Terlepas dari kontroversi berbagai pandangan orang tentang tatto, kebiasaan merajah kulit ternyata sudah ada sejak delapan ribu tahun yang lalu. Berbagai penemuan mummi dengan tatto di tubuh mereka menunjukkan bahwa kebiasaa...
Fakta di Balik Bangsa Petarung Hebat, Viking
Sejarah & Budaya
22-11-2018 - 08:30
​Bangsa Viking adalah salah satu suku yang sering kali dianggap sebagai sosok yang tangguh, kasar dan petarung hebat. Dalam film-film, mereka digambarkan sebagai sosok berambut pirang dan berbadan besar. Banyak mitos dan legenda yang berkisar tentang kehebatan bangsa Viking. Namun, apakah legenda-...
Membongkar Kebenaran Kisah Raja Arthur yang Tersohor
Sejarah & Budaya
12-11-2018 - 10:00
​Meskipun merupakan kisah tetang Raja dari negara lain cerita tentang Raja Arthur, pedang Excalibur dan Istana Camelot begitu tersohor hingga berbagai negara lain. Kemungkinan memang karena legenda tentang sifat kesatria dan keberaniannya yang luar biasa. Kamu yang berada di Indonesia mungkin juga...
Bagaimana Hitler Bisa Berkuasa di Negara yang Demokratis?
Sejarah & Budaya
02-11-2018 - 16:00
​Siapa sih yang tak mengenal Hitler? Salah satu sosok yang sampai saat ini bahkan masih memicu berbagai kontroversi. Bicara soal Hitler, sosok satu ini merupakan penggagas dari genosida terbesar yang pernah terjadi sampai saat ini. Kendati demikian, banyak yang penasaran bagaimana seorang Hitler d...
Mungkinkah Suku Kesatria Wanita Amazon Benar-benar Ada?
Sejarah & Budaya
29-10-2018 - 19:00
​Kamu mungkin sudah pernah mendengar kisah tentang para wanita Amazon. Para wanita kesatria yang tangguh dan bertarung layaknya pasukan pria pada masa ribuan tahun yang lalu. Jika kamu mengira bahwa kesetaraan antara pria dan wanita adalah produk peradaban modern, mungkin kamu perlu berpikir ulan...
Sebelum Berbentuk Seperti Sekarang InI, Beginilah Bentuk Bra
Sejarah & Budaya
19-10-2018 - 18:00
​Bra atau BH (buste houder) sudah menjadi barang yang umum digunakan oleh para wanita meski memang tidak semua wanita suka menggunakannya. Keberadaan bra sebagai penutup dada ternyata juga sudah ada sejak berabad-abad yang lalu. Berikut ini perkembangan bra dari sejak pertama diketahui penggunaann...
Mengenang Tragedi Muram Bangsa Indonesia 30 September 1965
Sejarah & Budaya
17-10-2018 - 10:00
​Peristiwa Gerakan 30 September, sering disebut dengan Gestok, Gestapu, atau G30S saja. Banyak versi yang muncul tentang kronologi peristiwa ini, hingga sulit untuk menemukan kepastian kejadiannya. Yang jelas, gerakan ini berhasil menghilangkan nyawa beberapa orang perwira militer, meruntuhkan kek...
Benarkah Sabdo Palon Naya Genggong Hanyalah Tokoh Fiktif?
Sejarah & Budaya
16-10-2018 - 08:00
Beberapa waktu lalu kamu tentu telah membaca artikel dilarangbego.com tentang sosok Jayabaya, si peramal sakti dari negeri Majapahit itu. Di antara beberapa ramalan Jayabaya, salah satunya disebutkan tertulis dalam Jangka Jayabaya Sabdo Palon. Sabdo Palon dikisahkan adalah seorang abdi dalem...
5 Tradisi Menyambut Kelahiran Bayi dari Seluruh Penjuru Nusantara
Sejarah & Budaya
09-10-2018 - 15:00
​Hadirnya bayi di tengah-tengah keluarga tentu menjadi kebahagiaan tersendiri. Apalagi jika datangnya si jabang bayi telah ditunggu sekian tahun lamanya. Tidak heran jika kelahiran mereka di dunia akan disambut dengan suka cita yang sedemikian rupa. Bahkan, ada beberapa tradisi khusus untuk meraya...
Taktik Licik yang Membuat Wu Zetian Menjadi Kaisar Wanita Pertama di Cina
Sejarah & Budaya
24-09-2018 - 10:00
​Menjadi kaisar di Cina bagi seorang wanita pada zaman dahulu sepertinya adalah hal yang mustahil. Namun, tidak bagi seorang wanita ambisius, licik dan kejam bernama Wu Zetian. Wanita ini menjadi seorang kaisar wanita pertama di Cina lewat taktiknya menyingkirkan semua hal yang menghalangi jalanny...