Mengenang Tragedi Muram Bangsa Indonesia 30 September 1965

Tey ,
Sejarah & Budaya ,
17-10-2018 - 10:00

Peristiwa Gerakan 30 September, sering disebut dengan Gestok, Gestapu, atau G30S saja. Banyak versi yang muncul tentang kronologi peristiwa ini, hingga sulit untuk menemukan kepastian kejadiannya. Yang jelas, gerakan ini berhasil menghilangkan nyawa beberapa orang perwira militer, meruntuhkan kekuasaan Presiden Sukarno, dan memicu konflik di masyarakat hingga timbul korban yang diperkirakan berjumlah ratusan ribu jiwa.

G30S berawal dari pengaruh Partai Komunis Indonesia (PKI) yang semaki menguat, baik dalam pemerintahan maupun masyarakat, sejak akhir ‘50-an. Pada waktu itu, Indonesia harus melalui periode berat, dengan berbagai krisis yang terjadi. Ekonomi sulit, inflasi terus naik dan pendapatan Negara kian merosot. Di bawah, masyarakat terlibat dalam berbagai konflik, terutama yang dipicu oleh para penganut ideologi sosialis komunis. Sementara di pemerintahan, korupsi mewabah, dan PKI makin berpengaruh di pemerintahan Sukarno, hingga mengusulkan ide pembentukan Angkatan Kelima di luar ABRI. Di tingkat global, Amerika Serikat dan sekutu sedang melancarkan Perang Dingin melawan Uni Soviet. Keduanya adalah Negara adidaya, pemenang Perang Dunia II yang berusaha membenamkan pengaruhnya masing-masing di Negara lain.

Konflik internal dalam tubuh pemerintahan Indonesia memosisikan PKI berseteru dengan elemen ABRI, terutama Angkatan Darat. Isu pun merebak, yakni tentang dibentuknya Dewan Jenderal beranggotakan petinggi AD, yang disinyalir sedang merencanakan kudeta terhadap presiden. Seketika itu pula, Sukarno disebut memerintahkan pasukan Cakrabirawa (pasukan khusus pengawal presiden) untuk menangkap para jenderal tersebut dan diadili. Sayangnya, petinggi-petinggi militer itu tak jadi diadili, malah diculik dan dibunuh dengan keji.

Peristiwa penculikan dan pembunuhan ini berlangsung pada tanggal 1 Oktober 1965 di dua lokasi, Jakarta dan Yogyakarta. Pimpinan eksekutor diyakini adalah Kolonel Untung yang disebut-sebut berasal dari unsur PKI. Penculikan para jenderal di Jakarta terjadi dini hari, dengan beberapa kompi tentara disebar menuju kediaman masing-masing target. Rencananya, mereka akan dibawa ke markas di daerah Lubang Buaya untuk dieksekusi. Tapi beberapa jenderal tewas lebih dulu karena melawan saat dipaksa ikut. Sementara di Yogyakarta, dua perwira AD juga ditangkap, kemudian ditembak mati di sebuah lokasi di daerah Kentungan sorenya, masih di hari yang sama. Para petinggi militer tersebut, antara lain:

  • ​Letjen TNI Ahmad Yani (Menteri/Panglima Angkatan Darat/Kepala Staf Komando Operasi Tertinggi)
  • Mayjen TNI Raden Suprapto (Deputi II Menteri/Panglima AD bidang Administrasi)
  • Mayjen TNI Mas Tirtodarmo Haryono (Deputi III Menteri/Panglima AD bidang Perencanaan dan Pembinaan)
  • Mayjen TNI Siswondo Parman (Asisten I Menteri/Panglima AD bidang Intelijen)
  • Brigjen TNI Donald Isaac Panjaitan (Asisten IV Menteri/Panglima AD bidang Logistik)
  • Brigjen TNI Sutoyo Siswomiharjo (Inspektur Kehakiman/Oditur Jenderal Angkatan Darat)
  • Brigjen TNI Katamso Darmokusumo (Komandan Korem 072 Kodam VII/Diponegoro)
  • Letkol TNI Sugiyono (Kepala Staf Korem 072/Pamungkas)

Jenderal AH. Nasution yang menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat sebenarnya adalah sasaran utama dari aksi penculikan dan penembakan tersebut. Namun beliau berhasil menghindar dan bersembunyi. Meski begitu, sang jenderal harus rela putri bungsunya menjadi korban peluru nyasar dan meninggal di rumah sakit beberapa jam kemudian. Pasukan penculik akhirnya hanya berhasil membawa Letnan Pierre Tendean, ajudan Nasution dan membawanya ke Lubang Buaya.

Berita pembunuhan para jenderal sampai ke telinga presiden, hingga kemudian beliau mengumpulkan petinggi AD yang tersisa, salah satunya Mayjen Suharto, Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad). Presiden Sukarno menunjuk Mayjen Pranoto Reksosamodra untuk melaksanakan tugas-tugas pimpinan AD, sedangkan Mayjen Suharto bertugas memulihkan keamanan.

Tidak berselang lama, Suharto kemudian berhasil membujuk pasukan penculik (dari Kodam Jaya dan Kodam Diponegoro) dan melucuti mereka. Pada esok harinya, 2 Oktober 1965, Suharto mengumumkan bahwa kudeta telah gagal. Jasad para jenderal pun ditemukan sehari kemudian, dan dimakamkan tanggal 5 Oktober.

Anggota ABRI menuduh PKI sebagai otak di balik aksi kudeta ini, dan menyerukan propaganda masif tentang keburukan organisasi tersebut. Propaganda tersebut meliputi pembersihan seluruh elemen PKI sampai ke akar-akarnya, yang menyulut reaksi lebih besar lagi.

Di sinilah letak tragedi yang sebenarnya. Pembersihan pun dilakukan, dimulai dengan penangkapan para petinggi PKI, seperti Dipa Nusantara Aidit, Njoto, Untung, M. H. Latief, Menlu Subandrio, dan orang-orang penting lainnya. Dan jika pemberontakan PKI hanya menyasar para jenderal, maka penumpasannya membuat banyak pihak menjadi korban, bahkan mungkin terlalu banyak dan berlebihan. Bukan hanya para petinggi PKI, atau personel PKI di pemerintahan, tetapi juga sampai di tingkat terbawah. Bahkan orang-orang tak berdosa yang sama sekali tidak punya hubungan dengan PKI, seperti kaum minoritas Tionghoa. Mereka ditangkap dan dibunuh, atau dilecehkan dan disiksa terlebih dahulu sebelum dihilangkan nyawanya secara sadis. Dan hal ini menjadi fenomena yang berlangsung di banyak tempat di Indonesia, terutama di Pulau Sumatera, Jawa, dan Bali. Konon, jumlah korban tewas diperkirakan antara 500 ribu hingga 2 juta jiwa.

Angka korban jiwa tersebut belumlah pasti. Sama tidak pastinya dengan kronologi peristiwa G30S yang kebenarannya masih simpang siur, juga siapa dalang di balik aksi kudeta berdarah tersebut. Hingga hari ini, teori tentang peristiwa pemberontakan ini hadir dalam beberapa versi, dengan pemerintah yang punya versinya sendiri. Namun yang pasti, korban telah banyak berjatuhan, PKI kemudian dibubarkan dan pemerintah menetapkan tanggal 1 Oktober 1965 diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila.

Komentar
Tak Hanya Berupa Gambar, di Balik Tato Ada Runtutan Sejarah Kebudayaan
Sejarah & Budaya
26-11-2018 - 08:00
​Apa yang kamu pikirkan pertama kali saat melihat seseorang dengan tatto? Terlepas dari kontroversi berbagai pandangan orang tentang tatto, kebiasaan merajah kulit ternyata sudah ada sejak delapan ribu tahun yang lalu. Berbagai penemuan mummi dengan tatto di tubuh mereka menunjukkan bahwa kebiasaa...
Fakta di Balik Bangsa Petarung Hebat, Viking
Sejarah & Budaya
22-11-2018 - 08:30
​Bangsa Viking adalah salah satu suku yang sering kali dianggap sebagai sosok yang tangguh, kasar dan petarung hebat. Dalam film-film, mereka digambarkan sebagai sosok berambut pirang dan berbadan besar. Banyak mitos dan legenda yang berkisar tentang kehebatan bangsa Viking. Namun, apakah legenda-...
Membongkar Kebenaran Kisah Raja Arthur yang Tersohor
Sejarah & Budaya
12-11-2018 - 10:00
​Meskipun merupakan kisah tetang Raja dari negara lain cerita tentang Raja Arthur, pedang Excalibur dan Istana Camelot begitu tersohor hingga berbagai negara lain. Kemungkinan memang karena legenda tentang sifat kesatria dan keberaniannya yang luar biasa. Kamu yang berada di Indonesia mungkin juga...
Bagaimana Hitler Bisa Berkuasa di Negara yang Demokratis?
Sejarah & Budaya
02-11-2018 - 16:00
​Siapa sih yang tak mengenal Hitler? Salah satu sosok yang sampai saat ini bahkan masih memicu berbagai kontroversi. Bicara soal Hitler, sosok satu ini merupakan penggagas dari genosida terbesar yang pernah terjadi sampai saat ini. Kendati demikian, banyak yang penasaran bagaimana seorang Hitler d...
Mungkinkah Suku Kesatria Wanita Amazon Benar-benar Ada?
Sejarah & Budaya
29-10-2018 - 19:00
​Kamu mungkin sudah pernah mendengar kisah tentang para wanita Amazon. Para wanita kesatria yang tangguh dan bertarung layaknya pasukan pria pada masa ribuan tahun yang lalu. Jika kamu mengira bahwa kesetaraan antara pria dan wanita adalah produk peradaban modern, mungkin kamu perlu berpikir ulan...
Siapakah Sebenarnya Pangeran Samber Nyawa?
Sejarah & Budaya
20-10-2018 - 17:00
​Orang mengenal Pangeran Samber Nyawa sebagai sosok pejuang yang tak kenal menyerah. Kegigihannya tidak diragukan lagi, melakukan perlawanan terhadap penjajah dan musuh-musuhnya dengan gagah berani, hingga julukan menyeramkan tersebut tersemat sampai kini. Bahkan saking mashyurnya julukan tersebut...
Sebelum Berbentuk Seperti Sekarang InI, Beginilah Bentuk Bra
Sejarah & Budaya
19-10-2018 - 18:00
​Bra atau BH (buste houder) sudah menjadi barang yang umum digunakan oleh para wanita meski memang tidak semua wanita suka menggunakannya. Keberadaan bra sebagai penutup dada ternyata juga sudah ada sejak berabad-abad yang lalu. Berikut ini perkembangan bra dari sejak pertama diketahui penggunaann...
Benarkah Sabdo Palon Naya Genggong Hanyalah Tokoh Fiktif?
Sejarah & Budaya
16-10-2018 - 08:00
Beberapa waktu lalu kamu tentu telah membaca artikel dilarangbego.com tentang sosok Jayabaya, si peramal sakti dari negeri Majapahit itu. Di antara beberapa ramalan Jayabaya, salah satunya disebutkan tertulis dalam Jangka Jayabaya Sabdo Palon. Sabdo Palon dikisahkan adalah seorang abdi dalem...
5 Tradisi Menyambut Kelahiran Bayi dari Seluruh Penjuru Nusantara
Sejarah & Budaya
09-10-2018 - 15:00
​Hadirnya bayi di tengah-tengah keluarga tentu menjadi kebahagiaan tersendiri. Apalagi jika datangnya si jabang bayi telah ditunggu sekian tahun lamanya. Tidak heran jika kelahiran mereka di dunia akan disambut dengan suka cita yang sedemikian rupa. Bahkan, ada beberapa tradisi khusus untuk meraya...
Taktik Licik yang Membuat Wu Zetian Menjadi Kaisar Wanita Pertama di Cina
Sejarah & Budaya
24-09-2018 - 10:00
​Menjadi kaisar di Cina bagi seorang wanita pada zaman dahulu sepertinya adalah hal yang mustahil. Namun, tidak bagi seorang wanita ambisius, licik dan kejam bernama Wu Zetian. Wanita ini menjadi seorang kaisar wanita pertama di Cina lewat taktiknya menyingkirkan semua hal yang menghalangi jalanny...